Epilog
Akhirnya setelah
sekian lama menunggu, tiba juga saatnya. Sebuah hari yang sunyi, tanpa
siapapun, aku sendiri disini. Mencari, menunggu, menanti, demi sebuah rasa yang
ada di hatiku. Meskipun aku tahu, semua akan sia-sia, tak ada gunanya. Tak lagi
kupikirkan apa kata mereka, melihatku disini, pergi dan kembali. Tak pernah
berhenti.. terus mencoba, karena aku yakin pasti ada disini, harus ada disini.
Semua yang telah kulakukan hanya untuk ini, tapi dimana ? kenapa ?
Sebuah pondok kecil di pedalaman, jauh dari keramaian kota
membuat pondok ini sangat asri dan menjadi tempat berlangsungnya kehidupan awal
yang bahagia. Tak pernah berhenti. Menggunakan yukata dan berlari kecil di
jalan setapak. Semuanya terlihat sumringah, seakan tak akan terjadi apapun di
sini. Kebahagiaan mereka seakan sudah lengkap tanpa hadirnya orang-orang di
luar sana. Sang ibu menuntun anaknya, sang kakak menjaga asang adik, sang ayah
akan kembali menjemput keluarganya, sang guru memberikan pelajaran, dan para
murid tersenyum tertawa bersama. Hingga malam tiba. Malam di tahun ke tujuh
itu, di tanggal 07 itu.
Mereka berbahagia..
Tanpa mengira, tepat pukul delapan malam, tak ada yang sadar
datangnya sebuah kesunyian dimulai. Ketakutan, keputus asaan
“aahhh,,, ke..ketua ?? bagaimana ini ? mereka datang ?
bagaimanaaaa ??? kita mati tak pa, tapi
anak-anak ? ketua ? ketua jawablah bagaimana !!!”
“bawa mereka pergi, ke belakang, melewati si siput itu,
hanya itu caranya”
“terlalu berisiko, banyak yang tak aakan sselamat kan ketua
? itu jalur khusus kita bila terjadi sesuatu seperti ini kan ? bukan untuk
mereka ?”
“setidaknya masih ada yag selamat kan ? lakukanlah kalian,
bawalah mereka, tuntun mereka, lindungi mereka. Ini perintah !!”
“ba..baik ketua!”
Si siput itu, terlalu sempit bagi mereka yang bertubuh agak
besar. Meskipun akhirnya mereka tetap melakukannya. Tetapi, seorang anak lelaki
tak beranjak pergi. Menatap datangnya bola api dari udara, tanpa berkutik.
“kau ! hei kau,”
“ahhh…a..akk…akuu..”
“ayo ikut !!”
“kenapa ?? bukankah
sensei sudah berjanji tak akan terjadi apapun ? apa ayahku akan datang ? aku
tak tahu siapa ibuku, aku.. tak mau mati, senseii….” Anak itu terus bicara
sambil menatap tanah lusuh yang menjadi pijakan kakinua itu
“dengar nak ! aku bertanggung jawab akan apapun yag ada
disini. Termasuk kau ! ayo, kita pergi. Aku akan menyelamatkanmu dan semuanya.
Melindungi kalian,”
“tapi, apa kami akan kembali kesini lagi ?”
“haahh, jika semua memungkinkan..” sensei hanya menjawab
sambil menatap awan, “ayo cepat kan ? kau mau bertemu ayahmu ? aku akan
membawamu padanya. Aku berjanji, ayo berjanji,” tersenyum dan mengacungkan jari
kelingking kanannya
“sensei, berjanjilah padaku. Kau akan datang lagi kan ?
padaku, pada kami semua, muridmu,”
“hahhh ? tak kusangka, usiamu yang masih 10 tahun ini sudah
bisa berpikir begitu.. ya! Aku akan kembali dan kau ikut denganku, ayo janjilah
!”
“ya !”
Mereka mengaitkan jari kelingking kanan mereka satu sama
lain. Meski begitu, belum sempat sensei ikut keluar dari si siput, semua itu
terjadi. Merah dan hancur tanpa sisa.
“sen..seii, janjimuu, akk ku takk kuut…
di..ma..na..sens..seiii, dimana te..man,, akk.kuuu tak..puunnyaa te..man..
sen..sei, maafkan akku tak bisa tepati jan..ji.. senseei juga tak te..pati
jann..ji, maaf senseii…” dia meneteskan air matanya, menunduk dan tak peduli
apapun yang berada disampingnya, menatap senseinya yang sudah menjadi abu
tersangkut di lubang siput dan tetap menggenggam tangan sensei.
“buuuoooodooohh ! lepas kan tangan sensei ! kau punya otak
tidak !!! ayo pergii!!!!” seorang anak lelaki yang sudah penuh luka, seumur
dengannya, berwajah yakin menarik tangannya
“ahhh, tapi sen seii ??”
“pergi ayo !! kita bisa mati ! sensei akan menemui kita
nanti, percayalah, jika sudah waktunya !”
“kapan?”
“kita tak pernah tau ! aku sudah berjanji padamu tempo hari,
aku akan menjagamu ayo, ayo riyuu, kita bersama keluar, lari, pergi dan mencari
bantuan dikota, ayo riyuu, percayalah padaku…”
“kyu..zu… aku percaya padamu. Maafkan aku, sensei,” dan
akhirnya mereka pergi
3 jam berlalu sejak kejadian itu.
“komandan , lapor ! tak ditemukan nyawa yang tersisa disini.
Ijinkan kami melanjutkan penyelidikan diluar lokasi,komandan!” seorang anggota
polisi berpangkat letnan mendatangi seorang komandan yang berdiri di sisi garis
polisi
“lakukan,”
“baik,”
Komandan itu melihat sekitar dan mulai menjelajahi daerah
lubang siput, menemukan seorang yang sudah hangus tersangkut didalamnya
“Letnan Kyori…”
“siap, komandan !”
“panggil tim evakuasi utama untuk memeriksa saluran ini,
ini… sebuah jalan rahasia. Setelah itu kau ikut aku telusuri rawa ini,”
“baik, komandan takano-sama !”
Mereka berdua menusuri rawa dan melihat sesosok manusia dibelakang
rawa, menggigil.
“komandan..”
“biar aku. Aku sudah berjanji pada orang itu, kalau aku tak
menemukannya, mungkin aku akan menyesal seumur hidup karena keterlambatanku
ini,”
“ta..tapi??? baiklah komandan, saya akan berada di belakang
anda !”
Komandan Takano menusuri jalan setapak dan menemukan dua
orang anak berpelukan, ketakutan, berantakan, dan tak melihat wajahnya
“Makusara-kun….” ucap Komandan Takano.
“aahhh, si, siapaaaa dia riyuuu ???” tanya kyuzu dengan
tetap memeluk Riyuu
“aku tak tahu… aku takutt,”
“Saanma-kun dan Makusara-kun, ayah kalian telah menitipkan
kalian padaku. Aku akan sangat senang apabila aku menepati janjiku pada mereka.
Maafkan aku atass keterlambatan kami,” Komandan Takano berusaha bersikap tenang
“cihhh, kau tahu hah ?? banyak yang mati di depan mata
kami!! Kau yang salahhh!!!” bentak Kyuzu
“aku tak bermaksud apapun, ini serangan mendadak. Tak
seharusnya kalian disini, ikutlah denganku. Kembalilah pada ayah kalian, ini
akan menjadi dosaku seumur hidup. Aku Komandan Chiguya Takano yang akan mencari
sampai titik darah penghabisanku, pelaku penyerangan ini, ikutlah denganku,”
Kyuzu memandang wajah Riyuu dan akhirnya memutuskan ikut
dengan Komandan
Akhirnya Letnan Kyori menggenggam tangan Kyuzu Saanma, dan
Komandan Takano menggenggam jemari mungil Riyuu Makusara.
Seolah semua baru saja terjadi, terus terulang setiap malam,
setiap hari di ingatannya
Chapter 1
Di sebuah kamar yang luas, seorang lelaki remaja berbaring
di atas spring bed empuknya berlambang Manchester United. Jendela yang tertutup
tirai kuning itu,kini menyala terang akibat terbitnya matahari. Dia
membelalakkan matanya, terengah, dan mengatur napasnya, seolah sesuatu baru
saja terjadi. Dia mulai terduduk dengan memakai piyama biru laut bercorak
bintang itu
“burukk..hanya mimpi burukk.. haaahh,” desah lelaki itu
Selalu begini, entah sejak satu bulan lalu itu, ahhh
sialannnnnnnnn, pikirnya sambil menggaruk kepalanya.
Wajahnya yang baru saja terjaga dari tidurnya terlihat lelah
seolah baru saja berpetualang. Hidung lancip asianya membuat bentuk wajahnya
tertata dan terlihat menyenangkan. Matanya yang dingin dengan alis coklat dan
bola mata coklat nya yang terbias sinar matahari menjadikan wajahnya terlihat
lebih bersinar dengan rambut cepak coklat se-lehernya itu. ketampanannya
membuatnya sangat terlihat seperti campuran antara bangsa asia timur dengan
eropa. Ditambah dengan rambut jatuhnya yang membuat keningnya tertutp sebagian
potongan rambut depannya.
“apa yang harus kulakukan ya ? aku tak tahu itu apa ?? siapa
yang harus kuajak bicara, siapa..” dia terus berbicara sendiri tetap memikirkan
mimpinya. Merasa aneh dan akhirnya memutuskan untuk kembali menjatuhkan
tubuhnya ke kasur empuknya dan memejamkan matanya, sambil berkata pada dirinya,
“ayolah Riyuu, pikirkanlah, siapa apa dimana kapan…hahh,”
Riyuu Makusara
kembali terpejam tanpa melanjutkan mimpinya.
No comments:
Post a Comment
Thanks for comment guys ^^